Nama  : Dani Darmawan

Kelas   : 4EB14         

NPM   : 20208297     

 

HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA – BELANDA

 

A. Sejarah Singkat Hubungan Bilateral

Periode awal pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, hubungan antara Indonesia dan Belanda di warnai dengan berbagai perundingan dan konferensi serta aktivitas militer yang intens. Persetujuan Meja Bundar yang ditandatangani di Den Haag pada tanggal 27 Desember 1949 telah mengakhiri konflik antara Indonesia dan Belanda, yang ditandai dengan penyerahan kekuasaan formal Belanda kepada Republik Indonesia.

Hubungan bilateral kedua negara sempat terkendala karena masalah pengembalian Irian Barat yang berujung pada pada pemutusan hubungan diplomatik pada bulan Agustus 1960. Dua tahun kemudian, melalui Perjanjian New York yang ditandangani oleh Indonesia dan Belanda, disepakati bahwa Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Pemerintah Sementara PBB (UN Temporary Executive Administation, UNTEA), yang kemudian menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia pada bulan Mei 1963.

Pada saat peringatan HUT Proklamasi RI di Wisma Duta Besar RI di Den Haag pada tanggal 17 Agustus 2005, Belanda menyampaikan penerimaan secara moral dan politik atas Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945. Hal ini menjadi babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Secara umum hubungan bilateral Indonesia dan Belanda terus menguat, khususnya sejak adanya pengakuan secara moral dan politik Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 oleh pemerintah Belanda melalui pernyataan Menlu Ben Bot pada tahun 2005. Sejak itu, telah terjadi peningkatan intensitas kerjasama bilateral kedua Negara di berbagai bidang, yang salah satu indikatornya adalah peningkatan saling kunjung pejabat tinggi kedua negara.

B. Kerjasama dan Hubungan Politik

Belanda menghormati keutuhan dan integritas NKRI. Belanda sangat menghargai kemajuan demokrasi di Indonesia, mengakui keberhasilan Indonesia dalam pemajuan HAM dan penegakan hukum, kebebasan media, good governance, dan penanggulangan terorisme. Belanda senantiasa menyampaikan kesiapan memperkuat kerjasama bilateral dalam bidang-bidang ini. Belanda mengakui keberhasilan Indonesia sebagai salah satu model dalam pengelolaan kerukunan kehidupan umat beragama. Sementara itu meskipun anggota dan pendukung RMS terus mengecil, namun kelompok ini secara regular melakukan sejumlah maneuver seperti demonstrasi peringatan hari tertentu yang dianggap penting, serta pengajuan gugatan terhadap petinggi Pemri di pengadilan. Upaya pembinaan masyarakat, termasuk komunitas Maluku dan Papua, antara lain melalui pendekatan sosial kebudayaan, merupakan salah satu kegiatan penting yang dilakukan KBRI Den Haag dalam memelihara semangat ke-Indonesia-an sekaligus menghalau kampanye separatism kalangan anti-RI.

Kegiatan saling kunjung pada tingkat kepala negara/pemerintahan dan pejabat tinggi antara kedua negara cukup intens. Kedua negara juga memiliki kerjasama yang cukup erat dalam bentuk saling dukung di berbagai forum internasional.

C. Kerjasama Ekonomi, Perdagangan dan Investasi

Daya saing dan peluang ekspor produk Indonesia tetap mempunyai peluang dan kompetitif untuk masuk ke Belanda asal memenuhi aturan main ekspor ke negara Uni Eropa. Belanda yang memiliki penduduk 16 juta, sekitar 800 ribu diantaranya berasal dari Indonesia yang menyukai makanan khas asal Indonesia. Berdasarkan Volume Perdagangan Indonesia- Belanda pada tahun 2008 saat ini sebesar 3,9 milyar dollar AS, yang terdiri dari ekspor Indonesia ke Belanda 2,9 milyar dollar AS dan impor dari Belanda 0,9 milyar dollar AS (surplus 2 milyar dollar AS untuk Indonesia). Komoditi ekspor Indonesia, a.l: tekstil dan produk tekstil, elektronik, karet dan produk karet, sawit, produk hasil hutan, alas kaki, otomotif, udang, kakao, kopi, processed food, fish and fish products, handicrafts, spices. Sedangkan impor dari Belanda, peralatan telekomunikasi,suku cadang mesin, produk hydrocarbon, minyak wangi, bahan plastik, produk susu olahan (keju, yoghurt).

Untuk trend perdagangan Belanda – Indonesia 5 tahun (2004-2008) : + 16,56%. Dengan nilai perdagangan pada tahun 2008 : US$ 4,61 milyar dan Nilai ekspor Belanda ke Indonesia 2008 : US$ 1,09 milyar. Nilai impor Belanda dari Indonesia 2008 : US$ 3,52 milyar. Apabila dilihat dari Neraca perdagangan 2008 : Surplus untuk Indonesia US$ 2,43 milyar. Produk ekspor utama Belanda ke Indonesia : mesin, turbojet, produk-produk kimia, bahan kosmetika .Produk impor utama Belanda dari Indonesia : CPO, timah batangan, kopra, alat transmisi untuk radio-telepon dan radio telegraph, batu bara, mesin pemroses data otomatis, furniture, karet, cocoa butter, ikan dan produk perikanan serta alas kaki. Impor jasa utama Belanda dari Indonesai : pelaut dan perawat. Impor Belanda dari Indonesia 2008 terhadap 2007 : naik 21,99%. Ekspor belanda ke Indonesia 2008 terhadap 2007 : naik 12,45%. Komposisi impor Belanda dari Indonesia 2008 : Migas (0,1%), Non Migas (99,9%)

Belanda memandang Indonesia sebagai mitra penting kerjasama ekonomi, perdagagan dan investasi sejalan dengan posisi Indonesia yang mulai dipandang sebagai middle income country dan anggota aktif G-20. Meskipun demikian, sejumlah kalangan pemerintah dan jajaran elit korporasi di Belanda cenderung memberikan fokus lebih terhadap peluang kerjasama bisnis dengan China, India dan bahkan Korea, yang merupakan tantangan tersendiri bagi Indonesia.

Tren nilai perdagangan Indonesia-Belanda selama 5 tahun terakhir (2006-2010) adalah 8,46%. Total nilai perdagangan selama periode tersebut mencapai US$ 18,68 miliar atau rata-rata per tahun US$ 3,73 miliar. Dari total nilai perdagangan tersebut, Indonesia berhasil mengekspor ke Belanda sebesar US$ 15,82 miliar dan sisanya sebesar US$ 2,86 miliar merupakan impor Indonesia dari Belanda. Dengan demikian, selama periode 5 tahun tersebut, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$ 12,96 miliar atau rata-rata surplus per tahun US$ 2,59 miliar.

Untuk tahun 2010, neraca perdagangan Indonesia-Belanda mencapai surplus US$ 3 milyar, naik 2,91% dibandingkan tahun 2009 yang hanya 2,3 milyar. Neraca perdagangan bulan Januari 2011 tercatat US$ 447 juta, naik sebesar 106% dibanding periode yang sama tahun 2009 sebesar US$ 145,9 juta.

Komoditi ekspor utama Indonesia ke Belanda tahun 2010 antara lain minyak kelapa, kopra, alas kaki, karet, kayu (wood continously shaped), dan printing machinery.

Belanda merupakan negara tujuan ekspor Indonesia yang menempati posisi ke-9. Beberapa jenis produk ekspor Indonesia pada awal 2010 yang menunjukkan peningkatan secara signifikan di pasar Belanda antara lain: palm oil and its fraction naik 32,54%;unwrought tin naik 179,81%, printing machinery used for printing naik 79,28%, coconut “copra” and fraction thereof naik 65,14%, prepared binders for foundry moulds or cores naik 1018,57% dan natural rubber naik 150,05%.

D. Kerjasama Pembangungan

Kerjasama Indonesia dengan Belanda di bidang pembangunan (development cooperation) selama ini difokuskan pada perkembangan sektor pendidikan penyediaan air bersih dan sanitasi, good governance dan pengembangan kawasan timur Indonesia.

Pemerintah Belanda juga memberikan bantuan kemanusiaan dan pembangunan untuk beberapa daerah Indonesia yang mengalami musibah bencana alam, seperti bencana tsunami di Aceh dan Nias serta gempa bumi di Yogyakarta dan Klaten.

Kesimpulan :

Bahwa kerjasama Bilateral yang dilakukan Indonesia dengan Negara Belanda sangat memberikan respon yang positif dan saling menguntungkan satu sama lain Sehingga Neraca Perdagangan Indonesia-Belanda Selalu Surplus.

Serta Belanda merupakan negara tujuan ekspor Indonesia yang menempati posisi ke-9. Beberapa jenis produk ekspor Indonesia pada awal 2010 yang menunjukkan peningkatan secara signifikan di pasar Belanda antara lain: palm oil and its fraction naik 32,54%;unwrought tin naik 179,81%, printing machinery used for printing naik 79,28%, coconut “copra” and fraction thereof naik 65,14%, prepared binders for foundry moulds or cores naik 1018,57% dan natural rubber naik 150,05%.